Senin, 10 Oktober 2016

Batik Indonesia Antara Tradisi dan Inovasi

Batik Tulis Yogyakarta  Motif Parang Baris
Foto Koleksi Pribadi 
Masih teringat dalam ingatanku dulu sewaktu masih sangat kecil, kira-kira kelas satu SD. Saat itu aku tinggal di Solo bersama eyangku yang sehari-harinya memakai kain batik dan kebaya serta rambut disanggul. Saat itu aku berpikir ini adalah cara berpakaian yang sangat ribet. Walaupun toh nyatanya eyangku bisa berdandan setiap harinya tanpa memerlukan waktu yang lama.

Batik Tulis Cirebon Motif Naga Seba
 Foto Koleksi Pribadi
Sesekali aku diajak eyangku ke pasar Klewer untuk membeli kain batik yang aku bilang saat itu motifnya jelek banget. Padahal kain-kain itu kalau dijual sekarang harganya pasti sangat mahal. Terkadang ada juga tetangga sekitarku yang menawarkan kain batik tulis buatannya untuk dibeli oleh eyangku.

Seingatku waktu itu satu lembar kain batik tulis ditawarkan seharga Rp 100 ribu. Lumayan mahal kalau menurutku pada waktu itu, sementara kain batik yang dibeli di pasar klewer harganya cuma Rp 10.000. Tapi saat itu aku tidak tahu kalau kain batik di pasar klewer adalah batik cap sedangkan yang harganya lebih mahal itu adalah batik tulis.

BAtik Tulis Motif Parang Sigaret
Foto Koleksi Pribadi 

Batik dalam Tradisi Jawa. 

Koleksi kain batik eyangku tidak sedikit. Ada sekitar dua lemari Kayu Jati yang sangat besar. Begitu juga dengan kebayanya. Ketika eyangku meninggal, (saat itu aku kelas 6 SD),  aku masih tidak tertarik dengan kain-kain batik tersesbut. Ketika orang-orang meminta kain-kain eyangku , maka aku mengijinkan mereka untuk mengambil kain-kain batik tersebut sesuka mereka.

Batik Tulis Cirebon Motif Tambal
Foto Koleksi Pribadi 
Baru ketika aku menikah, maka aku baru menyadari betapa berharganya kain-kain batik eyangku dulu itu. Apalagi jika tahu harga kain batik kuno yang nilainya bisa mencapai ratusan juta rupiah. Tapi ya sudahlah , semua sudah terlanjur.

Yang jelas sekarang aku sadar kalau kain batik merupakan benda yang selalu dipakai sepanjang hidup. Mulai dari sebelum dilahirkan hingga kematian datang.

Kain Panjang Solo Motif Tambal Tribusono
Foto Koleksi Pribadi
Di Jawa, khususnya di Solo, kain batik dipakai dalam setiap sesi acara pernikaha. Mulai dari acara selamatan, siraman, malam midodareni hingga akad nikah dan temu penganten. Setelah itu kain batik juga dipakai dalam acara selamatan tujuh bulan kehamilan. Bahkan Dalam upacara tujuh bulan, ada tujuh kain batik yang harus diganti.

Kain batik juga dipakai pada saat wanita akan melahirkan. Begitu juga untuk menggendong bayi. Walaupun sekarang sudah banyak gendongan bayi instan, namun menggendong bayi dengan kain batik tetap lebih nyaman dan aman. Ketika kematian datang, kain batik digunakan sebagai penutup mayat hingga ke liang kubur.

Batik Tulis Solo Motif Kusuma Srinarendra
Foto Koleksi Pribadi

Yuk berkenalan dengan Batik di Berbagai Belahan Dunia

Batik merupakan sebuah teknik pewarnaan resistan yang menggunakan lilin malam atau dikenal sebagai was. Teknik pewarnaan ini telah lama ada dengan menggunakan media alami seperti kain katun atau sutra. Pewarna yang digunakan juga merupakan jenis pewarna alami yang diambil dari bagian tanaman seperti batang, akar, buah dan daun. Namun tidak jarang ada juga yang menggunakan pewarna buatan.

Alat dan Bahan yang digunakan untuk membatik
Foto Koleksi Pribadi 
Seni membatik sendiri sebenarnya telah ada di Indonesia sejak tahun 400 Masehi. Hal ini dibuktikan dengan motif batik awal yang ditemukan di kuil-kuil kuno di seluruh Jawa. Sebenarnya Batik ada di Afrika, India, Eropa dan Asia Tenggara. Hanya saja teknik Batik yang ada di Pulau Jawa, Indonesia, telah mendapatkan pengakuan yang terbaik.

Kata Batik untuk pertama kalinya disebut dalam bahasa Inggris yaitu pada Encyclopedia Britanica tahun 1880. Batik berasal dari kata dalam bahasa Jawa "Aruba" yang artinya menulis, dan kata "titik". Perkembangan Batik dimulai pada zaman kuno dengan beberapa contoh yang ditemukan di Mesir pada abad ke-4 SM. Kala itu pengrajin mengasah kemampuan mereka disekitar upacara komples pembalseman dan pembungkus mumi. Caranya adalah dengan merendam kain dalam lilin, kemudian menggoreskan design pada kain dengan menggunakan stilus.

Contoh Motif Batik Tulis Surakarta
Parang rusak klitik, PArikesit, Parang baris, Gondosuti, Parang rusak barong, Cerende, Randu kentir, Ceplok menggih, Jelamprang, Udhan Liris, Sidomukti, Kotak, Kembang Jarak, Sulaman, Kawung picis, Truntum kembang, Tirta teja, Kawung sari
Foto Koleksi Pribadi 
Pada masa Dinasti Tang (618-907) , teknik yang sama juga dipraktekkan di Cina. Begitu juga dengan India yang juga mempraktekkan teknik yang sama dengan teknik yang digunakan masyarakat Mesir. Sedangkan di Jepang, teknik ini dikembangkan pada periode Nara (645-794) dan dikenal sebagai Rozonic.

Di Afrika, Batik dimulai oleh suku Yorubu di Nigeria dengan menghadirkan bentuk yang khas dan tidak biasa. Kemudian berlanjut dengan pembuatan batik oleh Suku Soninke dan Wolof di Senegal. Uniknya, dalam menghasilkan kreasi, para pengrajin dari Afrika ini bereksperimen dengan menggunakan pati singkong, tepung beras dan lumpur.

Batik Tulis Garut Motif Aduh MAnis
Foto Koleksi Pribadi 
Teknik batik di Eropa untuk pertama kalinya diterangkan di dalam "Sejarah Jawa" yang diterbitkan di London pada tahun 1817 oleh Gubernur Inggris di Jawa yaitu Stamford Raffles. Dilanjutkan pada tahun 1873, seorang pedagang Belanda bernama Van Rijckevoriel memberikan kain yang pernah ia kumpulkan selama di Indonesia kepada museum etnografi di Rotterdam. Hingga saat ini , Tropeumuseum memiliki koleksi terbesar batik Indonesia di Belanda.

Di Indonesia, Untuk bisa membatik, maka malam harus dipanaskan terlebih dahulu dalam wajan kecil hingga mencair. Malam panas dan cair inilah yang akan dibubuhkan pada kain untuk menciptakan bentuk dan pola. Bagian kain yang tertutup malam tidak akan tembus oleh warna sehingga akan menciptakan motif yang beragam. Malam akan dihilangkan dengan mencelup kain dalam air yang mendidih. Proses ini akan diulang beberapa kali untuk mendapatkan gambaran dengan pewarnaan berlapis-lapis.

Batik Tulis Yogyakarta Motif Wayang
Foto Koleksi Pribadi
Di Jawa, penamaan batik banyak yang di awali dengan kata "Sido" seperti batik Sido Mukti, Sido Luhur, Sido Mulyo dll. Penamaan ini mencerminkan kesinambungan pola dalam kaitannya dengan kegiatan sosial maupun budaya yang sedang berlangsung. Bahkan pola batik ini digunakan untuk mengukur peringkat seseorang dalam kasta masyarakat Jawa.

Inovasi Batik Indonesia 

Seni membatik  di Indonesia telah dikenal dan dipraktikkan mulai abad ke-12. Yaitu ketika para seniman tanah Jawa menemukan dan menggunakan pewarna alami yang ditemukan di pohon-pohon.. Beberapa jenis tanaman yang menghasilkan pewarna alami diantaranya adalah pohon mengkudu dan pohon tarum. Cabang-cabang kedua pohon tersebut akan menghasilkan pewarna alami biru tua atau lebih dikenal sebagai warna indigo.

Selendang Jmbi Motif Ceplok Bunga dan Tumpal
Foto Koleksi Pribadi

Sebutan pengrajin Batik adalah "Pengobeng". Sedangkan kain biru yang dihasilkan disebut sebagai "Kelengan". Pada jaman dahulu, Kelengan digunakan oleh para bangsawan yang merupakan keluarga kraton Kerajaan Jawa sebagai kain eksklusif .

Sekitar abad ke-17, ditemukan pewarna alami coklat yang dikenal sebagai "Soga Jambal". pewarna alami ini seringkali dicampur dengan kunyit, gondorukem, kembang pulu, blendok dan tebu. Untuk mendapatkan warna yang hidup dan diinginkan, maka proses pencelupan kain pada pewarna alami bisa mencapai waktu selma berbulan-bulan

Selendang Batik Tulis Yogyakarta pada Kain Organdi dengan motif Nusa Jelita
Foto Koleksi Pribadi
Sistem pewarnaan alami masih digunakan oleh "pengobeng" hingga abad ke-19. Hingga akhirnya ditemukan pewarna kimia yang proses pewarnaannya bisa lebih cepat. Dengan pewarna kimia ini selain prosesnya lebih cepat, maka warnanya juga lebih hidup dan lebih cerah. Sejak itulah industri batik berkembang dengan pesat karena warna yang dihasilkan lebih beragam, bukan hanya biru dan coklat saja.

Selain ditemukannya pewarna kimia, yang mempercepat pertumbuhan industri Batik adalah dengan ditemukannya "Cap". Dengan cap ini maka proses membuat pola dan bentuk pada kain jauh lebih cepat dibanding dengan melukis pada kain dengan menggunakan canting.

Aneka contoh cap tembaga
Foto Koleksi Pribadi
Keberadaan cap tembaga dan pewarna kimia tidak lepas dengan peran serta Belanda dalam mengembangkan bentuk-bentuk baru dari batik. Selain  memperkenalkan teknik cap dan pewarnaan dengan pewarna kimia, Belanda juga memperkenalkan pola-pola baru yang rumit.

Batik bukan sekedar kain dekoratif semata, tapi batik telah menjadi jiwa bangsa Indonesia. Pola-pola batik banyak yang merupakan simbolik bahkan ada juga yang dikhususkan bagi keluarga Keraton di mana kala itu rakyat jelata tidak boleh memakainya. Kini batik telah menjadi bagian hidup bagi seluruh masyarakat Indonesia, tanpa mengenal strata dan kasta.

Inovasi Busana Batik karya Designer Avy Lotus
Foto Koleksi Pribadi