Jumat, 30 Desember 2016

Workshop Jahit Bandung



Hai blogger Bandung

Tanggal 14 Januari ini, tepatnya di hari Sabtu,  Kriya Indonesia akan datang ke Bandung. Kita mau belajar jahit outer Kimono bareng di cafenya Abu Marlo. Namanya Marlo's Kitchen by Chef Norman.

Nah kalau blogger mau ikuta syaratnya apa aja ?

  1. Yang jelas harus punya blog ya , namanya juga blogger 
  2. Bersedia nge-twit dan juga share foto-foto kamu selama mengikuti wokshop ini ke Instagram. Untuk kedua kegiatan ini kamu akan berkesempatan mendapatkan hadiah lho. Hadiahnya Voucher Belanja untuk 4 blogger dengan jumal Twit atau Foto terbanyak di Instagram. 
  3. Mau cerita pengalaman menjahit saat workshop di blog pribadi. 
Gampang banget kan syaratnya. Terus apakah workshop ini berbayar?

Selama ini Kriya Indonesia sudah mengadakan workshop menjahit buat blogger dan semuanya Gratis. Jadi untuk workshop kali ini juga Gratis.

Jika kamu ikut waorkshop ini, maka kamu akan mendapatkan fasilitas :

  1. Alat dan bahan 
  2. Hasil jahitan dibawa pulang
  3. Coffe dan Snack pagi 
  4. Makan siang 
  5. Voucher belanja 
 Yuk daftar sebelum kehabisan seat karena terbatas hanya untuk 25 blogger saja.
Caranya kirim biodata kamu :

  • Nama : 
  • URL Blog
  • Email : 
  • Akun IG :
    Akun Twitter : 


ke
email : indonesiakriya@gmail.com
subjek: jahit Bandung

Jika kamu terpilih, maka akan dikirim undangan langsung oleh Kriya Indonesia.

Sabtu, 03 Desember 2016

Mengenal Fuya, Tapa dan Daluang


Apakah ada persamaan antara Fuya, Daluang dan Tapa? Ketiganya disebut di tempat yang berbeda. Tapi apakah perkembangan ketiganya sama? Apakah mungkin Fuya, Daluang dan Tapa bisa tetap hidup dan mengikuti perkembangan jaman yang ada?

Apa bedanya Fuya, Daluang dan Tapa? 

Fuya merupakan sebutan kain kulit kayu di Sulawesi Tengah. Kebudayaan kain kulit kayu ini sudah ada di Sulawesi Tengah sejak ribuan tahun yang lalu. Proses pembuatan kulit kayu hingga menjadi kain dan berkembang menjadi pakaian dimulai sejak kedatangan bangsa Austronesia yang melakukan pengembaraan sekitar 6.800 tahun yang lalu dari China Selatan menuju Macaw.

Bangsa Austronesia ini menempuh dua jalur yaitu darat dan laut. Jalur darat melewati Vietnam sedangkan jalur laut melewati Philiphina. Kemungkinan besar, orang-orang Austronesia yang melewati jalur laut inilah yang mendarat di Sulawesi.

Mereka membawa peralatan pembuatan kain kulit kayu dalam perbekalannya. Itu sebabnya batu Ike yang dipakai di Sulawesi Tengah ada persamaan dengan batu Ike yang digunakan di Taiwan. Selain peralatan, mereka juga membawa benih pohon Saeh yang merupakan bahan dasar pembuatan kain kulit kayu.

Pohon Saeh , masih kecil
Namun hanya satu tempat saja yang batu ike nya sama persis dengan yang ada di Sulawesi Tengah, yaitu di Mexico. Ini bisa terjadi karena para pengembara Austronesia itu hanya sebagian saja yang menetap di Sulawesi Tengah. Sebagian lagi melanjutkan pengembaraan dan diperkirakan sampai di Mexico.

Di Jawa, nama Fuya kurang dikenal. Di sini  kain kulit kayu lebih dikenal dengan nama Daluwang. Dalam sebuah catatan dijelaskan bahwa pada tahun 1646 pernah ada seseorang yang berjalan dari Jawa Timur ke Jawa Barat dengan memakai baju putih longgar dari kertas kayu.

Hanya saja penggunaan  kain kulit kayu sebagai baju di Jawa sangat sedikit sekali. Kebanyakan kain kulit kayu di Jawa digunakan sebagai media tulisan atau yang lebih dikenal sebagai Daluwang atau Dluwang. Bahkan dalam bahasa Jawa ada kata “Druwang” yang artinya kertas. Naskah-naskah kuno yang ditemukan di Pulau Jawa kebanyakan ditulis pada kertas dari kulit kayu atau Daluwang.

Tapa merupakan sebutan kain kulit kayu di seluruh dunia. Terutama di Pasifik seperti Hawaii juga Mexico. Untuk pertama kalinya istilah Tapa diperkenalkan oleh pelaut Marcopolo.

Pemanfaatan Kulit Kayu Saat Ini

Dahulu kain kulit kayu digunakan sebagai baju sehari-hari maupun baju adat. Kain kulit kayu kini tetap hidup di sebagian masyarakat Sulawesi Tengah. Diantaranya di Lembah Bada, Kabupaten Poso. Selain itu juga di beberapa daerah di Kabupaten Sigi, seperti Pandere, Kulawi dan Gumbasa. Hanya saja dengan berkembangnya fashion, maka penggunaan kain kulit kayu hanya terbatas sebagai pakaian adat saja.

Pembuatan kain kulit kayu saat ini memang masih didominasi oleh perempuan-perempuan tua. Mereka sudah sangat terampil, hanya saja usia tidak bisa membuat mereka memproduksi kain kulit kayu secara terus menerus. Ditambah lagi dengan kebutuhan sehari-hari yang harus dipenuhi.

Dengan demikian produksi kain kulit kayu ini hanya dilakukan disaat senggang saja. Kegiatan membuat kain kulit kayu dilakukan di saat mereka tidak bekerja di sawah. Itu sebabnya produksi kain kulit kayu belum bisa dilakukan secara terus menerus.


Saat ini para pengrajin memang hanya menjual kain kulit kayu dalam bentuk lembaran. Harga kain kulit kayu ditingkat pengrajin berkisar antara Rp 150.000 hingga Rp 350.000. Ini tergantung dari bahan baku. Jika dibuat dari kulit kayu Saeh maka harganya bisa lebih mahal jika dibanding dengan kain yang dibuat dari kayu Malo ataupun Beringin. Bahkan Daluwang yang dibuat di Bandung harganya mencapai Rp 55 per cm atau sekitar Rp 550.000 per meter.

Jika dilihat dari lama pembuatannya yang berkisar antara 4-6 hari, maka harga tersebut boleh dibilang sangat murah. Proses yang harus dilalui untuk membuat satu lembar kain berukuran kurang lebih 1 m X 1,5 m adalah dengan mengambil kulit kayu dari pohonnya. Kemudian kulit tersebut dibersihkan dengan air mengalir.

Jika menggunakan kulit kayu Malo atau kayu Beringin maka perlu dilakukan perebusan terlebih dahulu agar kayu lebih empuk ketika dipukul nantinya. Tapi jika menggunakan kayu Saeh, maka perebusan tidak perlu dilakukan. Ini karena kulit kayu Saeh adalah bahan baku terbaik diantara jenis kulit kayu lainnnya.

Setelah itu dilakukan pemeraman selama 3-4 hari untuk mendapatkan lendir yang berfungsi untuk membantu proses pemukulan. Barulah dilakukan pemukulan dengan menggunakan ruyung enau dan batu ike. Pemukulan dilakukan bertahap hingga diperoleh ketebalan kulit kayu yang diinginkan.

Antara Potensi dan Hambatan
Jika melihat proses yang panjang dan sejarah kain kulit kayu, maka bisa terlihat dengan jelas potensi kain kulit kayu di Indonesia ini. Potensi tersebut diantaranya adalah :

1.Indonesia merupakan satu-satunya Negara di dunia yang masih memproduksi kain kulit kayu.

Dengan demikian, kain kulit kayu bisa menjadi asset besar dalam mendatangkan devisa Negara dari sektor wisata. Berbagai sentra pembuatan kain kulit kayu memiliki potensi wisata megalitik yang sangat mendukung pemasaran produksi kain kulit kayu masyarakat setempat. Hal ini tentu saja akan berimbas pada meningkatnya pendapatan daerah setempat juga.

2.Kain kulit kayu merupakan sebuah kain unik yang bisa diolah menjadi fashion menarik.

Saat ini kain kulit kayu yang ada masih dibuat dengan teknik-teknik standar. Jadi penting untuk dilakukan berbagai percobaan guna mendapatkan teknik pengolahan yang lebih baik untuk mendapatkan kualitas yang lebih baik lagi. Seperti misalnya teknik membuat kain kulit kayu tidak mudah sobek, juga teknik mendapatkan ketebalan yang beragam sesuai dengan trend fashion yang ada.

3.Kain kulit kayu bisa dimanfaatkan untuk berbagai pelengkap fashion.

Sisa-sisa kain kulit kayu yang digunakan untuk membuat baju bisa digunakan untuk membuat asesoris pelengkap fashion, seperti misalnya kalung, bandana, bros dll. Bisa juga dibuat tas, dompet, sandal, sepatu dll.

4.Kain kulit kayu sangat potensial untuk dijadikan sebagai nenan rumah tangga.

Tekstur kain kulit kayu yang keras membuat kain ini cocok digunakan sebagai bahan lenan rumah tangga seperti kap lampu, taplak meja, tikar dll. Hanya saja yang perlu dipikirkan lagi adalah bagaimana membuat kain kulit kayu ini bisa tahan terhadap air dan tidak mudah rusak jika terkena air, karena produk lenan rumah tangga sangat rentan terkena percikan air.

Selain potensi yang ada, hambatan dalam pengembangan kain kulit kayu di Indonesia juga masih banyak, diantaranya :

1.Pengrajin yang sudah tua

Untuk mengatasi ini tentu perlu dilakukan re-generasi. Penting dilakukan untuk mendidik dan membina generasi muda setempat untuk mau menjadi pengrajin kain kulit kayu. Tentu saja ini tidak mudah, karena perlu kesadaran tinggi dari para generasi muda akan pentingnya kain kulit kayu ini, bukan hanya bagi masyarakat setempat tapi juga bagi dunia.



2.Ketersediaan bahan baku

Saat ini tidak pernah dilakukan penanaman kayu Saeh, Malo maupun Beringin. Selama ini para pengrajin hanya mengambil kayu dari kebun maupun hutan. Hanya saja, jika hal ini dilakukan terus menerus, maka pohon-pohon ini akan segera habis. Oleh karena itulah gerakan menanam kembali pohon Saeh, Malo maupun Beringin penting untuk dilakukan.

3.Penghargaan masyarakat yang kurang

Bagaimanapun juga pengharagaan masyarakat pada sebuah kreasi itu sangat penting. Tanpa adanya sebuah penghargaan, maka kreasi tersebut tidak akan pernah bernilai. Untuk itulah perlu diperkenalkan kain kulit kayu ini pada seluruh lapisan masyarakat terutama pada anak-anak sebagai generasi penerus bangsa.

Yang bisa dilakukan antara lain adalah memasukkan “Kain Kulit Kayu” ini ke dalam kurikulum muatan lokal di Sulawesi Tengah.  Selain itu juga menyebarluaskan informasi tentang kain kulit kayu di berbagai media, baik itu media cetak, elektronik maupun media sosial.

Kain kulit kayu merupakan warisan budaya yang penting untuk dilestarikan di Nusantara ini. Hanya saja untuk mencapai semua itu diperlukan kerjasama berbagai pihak. Ini adalah sebuah pekerjaan besar demi kelangsungan hidup bangsa, karena kain kulit kayu adalah bagian penting dari sejarah bangsa. Jika ingin membangun sebuah bangsa maka hal utama yang harus dilakukan adalah membangun sejarahnya.



Senin, 10 Oktober 2016

Batik Indonesia Antara Tradisi dan Inovasi

Batik Tulis Yogyakarta  Motif Parang Baris
Foto Koleksi Pribadi 
Masih teringat dalam ingatanku dulu sewaktu masih sangat kecil, kira-kira kelas satu SD. Saat itu aku tinggal di Solo bersama eyangku yang sehari-harinya memakai kain batik dan kebaya serta rambut disanggul. Saat itu aku berpikir ini adalah cara berpakaian yang sangat ribet. Walaupun toh nyatanya eyangku bisa berdandan setiap harinya tanpa memerlukan waktu yang lama.

Batik Tulis Cirebon Motif Naga Seba
 Foto Koleksi Pribadi
Sesekali aku diajak eyangku ke pasar Klewer untuk membeli kain batik yang aku bilang saat itu motifnya jelek banget. Padahal kain-kain itu kalau dijual sekarang harganya pasti sangat mahal. Terkadang ada juga tetangga sekitarku yang menawarkan kain batik tulis buatannya untuk dibeli oleh eyangku.

Seingatku waktu itu satu lembar kain batik tulis ditawarkan seharga Rp 100 ribu. Lumayan mahal kalau menurutku pada waktu itu, sementara kain batik yang dibeli di pasar klewer harganya cuma Rp 10.000. Tapi saat itu aku tidak tahu kalau kain batik di pasar klewer adalah batik cap sedangkan yang harganya lebih mahal itu adalah batik tulis.

BAtik Tulis Motif Parang Sigaret
Foto Koleksi Pribadi 

Batik dalam Tradisi Jawa. 

Koleksi kain batik eyangku tidak sedikit. Ada sekitar dua lemari Kayu Jati yang sangat besar. Begitu juga dengan kebayanya. Ketika eyangku meninggal, (saat itu aku kelas 6 SD),  aku masih tidak tertarik dengan kain-kain batik tersesbut. Ketika orang-orang meminta kain-kain eyangku , maka aku mengijinkan mereka untuk mengambil kain-kain batik tersebut sesuka mereka.

Batik Tulis Cirebon Motif Tambal
Foto Koleksi Pribadi 
Baru ketika aku menikah, maka aku baru menyadari betapa berharganya kain-kain batik eyangku dulu itu. Apalagi jika tahu harga kain batik kuno yang nilainya bisa mencapai ratusan juta rupiah. Tapi ya sudahlah , semua sudah terlanjur.

Yang jelas sekarang aku sadar kalau kain batik merupakan benda yang selalu dipakai sepanjang hidup. Mulai dari sebelum dilahirkan hingga kematian datang.

Kain Panjang Solo Motif Tambal Tribusono
Foto Koleksi Pribadi
Di Jawa, khususnya di Solo, kain batik dipakai dalam setiap sesi acara pernikaha. Mulai dari acara selamatan, siraman, malam midodareni hingga akad nikah dan temu penganten. Setelah itu kain batik juga dipakai dalam acara selamatan tujuh bulan kehamilan. Bahkan Dalam upacara tujuh bulan, ada tujuh kain batik yang harus diganti.

Kain batik juga dipakai pada saat wanita akan melahirkan. Begitu juga untuk menggendong bayi. Walaupun sekarang sudah banyak gendongan bayi instan, namun menggendong bayi dengan kain batik tetap lebih nyaman dan aman. Ketika kematian datang, kain batik digunakan sebagai penutup mayat hingga ke liang kubur.

Batik Tulis Solo Motif Kusuma Srinarendra
Foto Koleksi Pribadi

Yuk berkenalan dengan Batik di Berbagai Belahan Dunia

Batik merupakan sebuah teknik pewarnaan resistan yang menggunakan lilin malam atau dikenal sebagai was. Teknik pewarnaan ini telah lama ada dengan menggunakan media alami seperti kain katun atau sutra. Pewarna yang digunakan juga merupakan jenis pewarna alami yang diambil dari bagian tanaman seperti batang, akar, buah dan daun. Namun tidak jarang ada juga yang menggunakan pewarna buatan.

Alat dan Bahan yang digunakan untuk membatik
Foto Koleksi Pribadi 
Seni membatik sendiri sebenarnya telah ada di Indonesia sejak tahun 400 Masehi. Hal ini dibuktikan dengan motif batik awal yang ditemukan di kuil-kuil kuno di seluruh Jawa. Sebenarnya Batik ada di Afrika, India, Eropa dan Asia Tenggara. Hanya saja teknik Batik yang ada di Pulau Jawa, Indonesia, telah mendapatkan pengakuan yang terbaik.

Kata Batik untuk pertama kalinya disebut dalam bahasa Inggris yaitu pada Encyclopedia Britanica tahun 1880. Batik berasal dari kata dalam bahasa Jawa "Aruba" yang artinya menulis, dan kata "titik". Perkembangan Batik dimulai pada zaman kuno dengan beberapa contoh yang ditemukan di Mesir pada abad ke-4 SM. Kala itu pengrajin mengasah kemampuan mereka disekitar upacara komples pembalseman dan pembungkus mumi. Caranya adalah dengan merendam kain dalam lilin, kemudian menggoreskan design pada kain dengan menggunakan stilus.

Contoh Motif Batik Tulis Surakarta
Parang rusak klitik, PArikesit, Parang baris, Gondosuti, Parang rusak barong, Cerende, Randu kentir, Ceplok menggih, Jelamprang, Udhan Liris, Sidomukti, Kotak, Kembang Jarak, Sulaman, Kawung picis, Truntum kembang, Tirta teja, Kawung sari
Foto Koleksi Pribadi 
Pada masa Dinasti Tang (618-907) , teknik yang sama juga dipraktekkan di Cina. Begitu juga dengan India yang juga mempraktekkan teknik yang sama dengan teknik yang digunakan masyarakat Mesir. Sedangkan di Jepang, teknik ini dikembangkan pada periode Nara (645-794) dan dikenal sebagai Rozonic.

Di Afrika, Batik dimulai oleh suku Yorubu di Nigeria dengan menghadirkan bentuk yang khas dan tidak biasa. Kemudian berlanjut dengan pembuatan batik oleh Suku Soninke dan Wolof di Senegal. Uniknya, dalam menghasilkan kreasi, para pengrajin dari Afrika ini bereksperimen dengan menggunakan pati singkong, tepung beras dan lumpur.

Batik Tulis Garut Motif Aduh MAnis
Foto Koleksi Pribadi 
Teknik batik di Eropa untuk pertama kalinya diterangkan di dalam "Sejarah Jawa" yang diterbitkan di London pada tahun 1817 oleh Gubernur Inggris di Jawa yaitu Stamford Raffles. Dilanjutkan pada tahun 1873, seorang pedagang Belanda bernama Van Rijckevoriel memberikan kain yang pernah ia kumpulkan selama di Indonesia kepada museum etnografi di Rotterdam. Hingga saat ini , Tropeumuseum memiliki koleksi terbesar batik Indonesia di Belanda.

Di Indonesia, Untuk bisa membatik, maka malam harus dipanaskan terlebih dahulu dalam wajan kecil hingga mencair. Malam panas dan cair inilah yang akan dibubuhkan pada kain untuk menciptakan bentuk dan pola. Bagian kain yang tertutup malam tidak akan tembus oleh warna sehingga akan menciptakan motif yang beragam. Malam akan dihilangkan dengan mencelup kain dalam air yang mendidih. Proses ini akan diulang beberapa kali untuk mendapatkan gambaran dengan pewarnaan berlapis-lapis.

Batik Tulis Yogyakarta Motif Wayang
Foto Koleksi Pribadi
Di Jawa, penamaan batik banyak yang di awali dengan kata "Sido" seperti batik Sido Mukti, Sido Luhur, Sido Mulyo dll. Penamaan ini mencerminkan kesinambungan pola dalam kaitannya dengan kegiatan sosial maupun budaya yang sedang berlangsung. Bahkan pola batik ini digunakan untuk mengukur peringkat seseorang dalam kasta masyarakat Jawa.

Inovasi Batik Indonesia 

Seni membatik  di Indonesia telah dikenal dan dipraktikkan mulai abad ke-12. Yaitu ketika para seniman tanah Jawa menemukan dan menggunakan pewarna alami yang ditemukan di pohon-pohon.. Beberapa jenis tanaman yang menghasilkan pewarna alami diantaranya adalah pohon mengkudu dan pohon tarum. Cabang-cabang kedua pohon tersebut akan menghasilkan pewarna alami biru tua atau lebih dikenal sebagai warna indigo.

Selendang Jmbi Motif Ceplok Bunga dan Tumpal
Foto Koleksi Pribadi

Sebutan pengrajin Batik adalah "Pengobeng". Sedangkan kain biru yang dihasilkan disebut sebagai "Kelengan". Pada jaman dahulu, Kelengan digunakan oleh para bangsawan yang merupakan keluarga kraton Kerajaan Jawa sebagai kain eksklusif .

Sekitar abad ke-17, ditemukan pewarna alami coklat yang dikenal sebagai "Soga Jambal". pewarna alami ini seringkali dicampur dengan kunyit, gondorukem, kembang pulu, blendok dan tebu. Untuk mendapatkan warna yang hidup dan diinginkan, maka proses pencelupan kain pada pewarna alami bisa mencapai waktu selma berbulan-bulan

Selendang Batik Tulis Yogyakarta pada Kain Organdi dengan motif Nusa Jelita
Foto Koleksi Pribadi
Sistem pewarnaan alami masih digunakan oleh "pengobeng" hingga abad ke-19. Hingga akhirnya ditemukan pewarna kimia yang proses pewarnaannya bisa lebih cepat. Dengan pewarna kimia ini selain prosesnya lebih cepat, maka warnanya juga lebih hidup dan lebih cerah. Sejak itulah industri batik berkembang dengan pesat karena warna yang dihasilkan lebih beragam, bukan hanya biru dan coklat saja.

Selain ditemukannya pewarna kimia, yang mempercepat pertumbuhan industri Batik adalah dengan ditemukannya "Cap". Dengan cap ini maka proses membuat pola dan bentuk pada kain jauh lebih cepat dibanding dengan melukis pada kain dengan menggunakan canting.

Aneka contoh cap tembaga
Foto Koleksi Pribadi
Keberadaan cap tembaga dan pewarna kimia tidak lepas dengan peran serta Belanda dalam mengembangkan bentuk-bentuk baru dari batik. Selain  memperkenalkan teknik cap dan pewarnaan dengan pewarna kimia, Belanda juga memperkenalkan pola-pola baru yang rumit.

Batik bukan sekedar kain dekoratif semata, tapi batik telah menjadi jiwa bangsa Indonesia. Pola-pola batik banyak yang merupakan simbolik bahkan ada juga yang dikhususkan bagi keluarga Keraton di mana kala itu rakyat jelata tidak boleh memakainya. Kini batik telah menjadi bagian hidup bagi seluruh masyarakat Indonesia, tanpa mengenal strata dan kasta.

Inovasi Busana Batik karya Designer Avy Lotus
Foto Koleksi Pribadi